Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan sejumlah langkah khusus guna menjaga keselamatan jemaah selama fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna. Kebijakan ini diprioritaskan bagi jemaah lansia, penyandang disabilitas, hingga jemaah dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi.
Padatnya jutaan jemaah saat fase Armuzna membuat pemerintah dan petugas haji menerapkan berbagai skema perlindungan agar jemaah dengan kondisi khusus tetap dapat menjalankan ibadah secara aman dan nyaman.
Musyrif Diniyah PPIH Arab Saudi, Haris Muslim, menegaskan seluruh jemaah dengan kondisi khusus tetap wajib menjalani wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah karena wukuf merupakan rukun utama dalam ibadah haji.
Menurutnya, syariat Islam juga memberikan kemudahan bagi jemaah yang memiliki keterbatasan fisik maupun gangguan kesehatan sehingga pemerintah menyiapkan sejumlah skema layanan khusus selama puncak haji berlangsung.
PPIH mengelompokkan lima kategori jemaah yang mendapat prioritas layanan khusus, yaitu jemaah risiko tinggi, lansia, penyandang disabilitas, jemaah obesitas, serta pendamping jemaah uzur.
Keberadaan pendamping dinilai penting untuk membantu kebutuhan jemaah selama menjalani ibadah di tengah kondisi Armuzna yang padat dan melelahkan.
Salah satu kebijakan utama yang diterapkan tahun ini adalah skema murur saat mabit di Muzdalifah. Dalam skema tersebut, jemaah uzur tidak perlu turun dari bus ketika melintas di Muzdalifah.
Bus akan langsung bergerak dari Arafah menuju Mina melewati kawasan Muzdalifah tanpa proses turun dari kendaraan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kelelahan dan gangguan kesehatan akibat kepadatan ekstrem di Muzdalifah.
Menurut Haris, kondisi Muzdalifah saat puncak haji sangat padat sehingga berpotensi membahayakan jemaah lansia dan jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu apabila dipaksa turun dari bus.
Sementara itu, Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah PPIH Arab Saudi, Ihsan Faisal, menyebut penerapan awal skema murur diprioritaskan bagi jemaah yang berada di zona 5.
Selain murur, PPIH juga menyiapkan skema tanazul untuk mengurangi kepadatan di Mina. Dalam skema ini, sebagian jemaah dapat langsung kembali ke hotel di Makkah tanpa harus bermalam di Mina.
Pengaturan dilakukan secara bertahap sesuai kondisi dan kebutuhan jemaah agar proses ibadah tetap berjalan aman dan tertib.
PPIH menegaskan penerapan murur dan tanazul bertujuan memberikan perlindungan maksimal kepada jemaah yang rentan secara fisik, terutama lansia dan penyandang disabilitas.
Kemudahan juga diberikan saat pelaksanaan lontar jumrah di Mina. Jemaah yang tidak mampu secara fisik diperbolehkan melakukan badal atau mewakilkan lontar jumrah kepada orang lain.
Selain itu, jemaah juga diperbolehkan menggabungkan lontar jumrah beberapa hari sekaligus sesuai ketentuan fikih untuk mengurangi risiko kelelahan di tengah cuaca panas dan kepadatan kawasan jamarat.
PPIH turut mengingatkan bahwa penggunaan kursi roda di area jamarat sangat terbatas karena faktor keselamatan dan tingginya jumlah jemaah saat prosesi lontar jumrah berlangsung.
Pastikan ibadah haji dan umroh Anda lebih nyaman, aman, dan terarah bersama Jana Madinah Wisata ✨
Mulai dari persiapan keberangkatan, pendampingan ibadah, hingga pelayanan selama di Tanah Suci, kami siap menemani perjalanan ibadah Anda dengan pelayanan terbaik.
Yuk wujudkan niat suci ke Baitullah bersama Jana Madinah Wisata 🤍
📞 Konsultasi & pendaftaran sekarang juga, karena kuota keberangkatan terbatas!
